Analisa sederhana kekalahan Aher
Banyaknya artis yang mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat tentunya berdampak terhadap peluang Aher untuk bisa mengulang sukses seperti pemilukada sebelumnya, ditambah perilaku pemilih sudah mulai cerdas untuk menentukan pilihannya, terlihat hasil pemilukada Jakarta menjadi indikator kuat perubahan sikap perilaku pemilih PKS, padahal dengan kepercayaan diri yang sangat kuat mengacu pada pemilukada Jakarta sebelumnya serta hasil pemilu 2009 ternyata perolehan suara calon dari PKS jauh dari harapan atau bahkan indikasi ini membuktikan bahwa PKS sudah tidak seperti dulu lagi dimata pemilih PKS. Hal ini tentunya akan berdampak sama pada pemilukada Jawa Barat atau bahkan lebih parah lagi hasilnya dengan beberapa alasan sebagai berikut :
Pertama :
Perilaku pemilih PKS terutama dari kalangan menengah keatas akan berubah, perubahan ini terjadi karena pemilih menengah keatas saat ini cenderung bersikap pragmatis, kalangan menengah tidak lagi menempatkan nilai-nilai atau ideologi sebagai preferensi utama dalam pilihan politiknya, partisipasi politik kelas menengah-pragmatis sangat ditentukan oleh tingkat kepercayaan dan kepentingan ekonomi-politik individu maupun kelompoknya terhadap institusi politik, kasus pemilukada Jakarta bisa menjadi contoh nyata perubahan pemilih PKS dari kalangan menengah keatas.
Kegagalan PKS di pemilukada Jakarta merupakan bukti kegagalan PKS merawat dan menjaga basis konstituennya yang berasal dari kalangan menengah keatas, apalagi karakteristik pemilih kalangan menengah keatas ini sangat mudah kecewa apabila pilihannya mengecewakan. Salah satu contoh perilaku elit yang mengecewakan adalah dugaan kasus suap dana percepatan pembangunan infrastruktur daerah yang dikaitkan dengan Tamsil Linrung, politisi PKS yang duduk sebagai Wakil Ketua Badan Anggaran DPR. Begitu juga kekecewaan terhadap perilaku Arifinto salah satu Anggota DPR dari PKS yang tertangkap basah sedang menonton video porno di ruang sidang DPR,
Kekecewaan ini bukan hanya tingkat lokal saja tetapi juga berdampak secara nasional termasuk Jawa Barat, lihat saja hasil Survey baru-baru ini yang dilakukan oleh Lembaga Survey Indonesia yang mengatakan bahwa elektabilitas PKS turun dari 7.8 persen pada pemilu 2009 menjadi 3.9 persen bila dilakukan pemilu pada saat ini.
Dalam konteks jawa barat perilaku pemilih kalangan menengah ini juga akan sama, Walaupun suara mereka tidak mayoritas di Jawa Barat namun partisipasi politiknya tentu dapat merubah konstelasi politik yang ada. Kalau mereka peduli pada Jawa Barat, harapannya tentu mereka tidak akan Golput
Diprediksi suara kalangan menengah keatas ini, tidak akan memilih Aher sebagai Gubernur Jawa Barat, kondisi ini hampir sama seperti kalangan menengah keatas yang juga tidak memilih Foke sebagai Gubernur Jakarta, apalagi kedua-duanya adalah incumbent yang sudah pasti perjalanan baik-buruknya roda pemerintahan selama lima tahun menjadi salah satu tolak ukur penilaian dan pilihan mereka.
Kedua :
Perilaku kader PKS yang hedonis tentunya akan berdampak negatif bagi citra partai, lihat saja penampilan gaya hidup elit PKS seperti Anis Matta, padahal Anis Matta bila didepan kader-kadernya yang Militan, dia selalu bicara nilai-nilai Islam yang sipatnya ideal tapi justru dalam bermuamalah jauh dari prinsip dan nilai Islam, begitu juga terhadap elit-elit partai di tingkat lokal kondisinya hampir sama dan tidak jauh berbeda terhadap perilaku hedonis.
Dampak dari perilaku hedonis elit PKS ini terbukti menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegagalan PKS mengusung Hidayat Nur Wahid sebagai Gubernur Jakarta, kondisi ini juga tentu tidak akan jauh berbeda dan tentu akan berdampak yang sama terhadap hasil perolehan suara Aher di Jawa Barat.
Ada sebuah fenomena bangsa yang sangat mengerikan akibat perilaku hedonis yang dilakukan para elit partai dan ini merupakan awal bagi kehancuran suatu bangsa, Sungguh tragis nasib sebuah bangsa, jika para penguasa, pejabat maupun kaum elit di negeri ini jika sudah terasuki semangat hedonis padahal kelompok ini adalah kelompok strategis yang semestinya memberikan contoh suri teladan yang baik bagi masyarakat, Karena perilaku hedonis adalah suatu sikap atau gaya hidup instan yang berorientasi pada kenikmatan yang bersipat materi dan kekuasaan.
Ketiga :
Perjalanan Aher sebagai Gubernur Jawa Barat, Apa saja yang sudah dicapai Aher selama ini ? kalau melihat kondisi yang ada, selama lima tahun perjalanan Aher di Jawa Barat ternyata tidak mencapai hasil yang diharapkan, kemiskinan, pendidikan dan akses kesehatan masih menjadi problematika utama masyarakat Jawa Barat, lebih parah lagi saat ini Jawa Barat menempati rangking pertama penderita HIV/Aids terbesar se-Indonesia.
Fenomena HIV/Aids inilah yang sekarang terjadi di Jawa Barat dan saat ini jumlah penderita HIV/Aids di Jawa Barat menempati urutan tertinggi sebagai daerah yang paling banyak penduduknya tertular virus HIV/Aids, Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan jumlah pengidap HIV/AIDS tertinggi. Data statistik menunjukkan setidaknya terdapat 14 ribu warga terinfeksi virus HIV dan 4 ribu individu terjangkit AIDS. Jawaban klasik dari kondisi seperti ini adalah untung Gubernurnya seorang religius coba kalau bukan tentunya penderita Aids akan lebih banyak dari kondisi sekarang ini ? apakah hanya sekedar itu jawabannya, apakah tidak ada solusi lain mengatasi melonjaknya angka penyebaran virus HIV/Aids di Jawa Barat ?
Belum berhasilnya Aher mengatasi problematika utama, yakni, kemiskinan, pendidikan dan akses kesehatan tentunya akan berdampak negatif bagi perolehan suara Aher untuk bisa dipercaya lagi memimpin Jawa Barat karena dianggap tidak mampu menjalankan tugas selama lima tahun masa pemerintahannya.
Keempat :
Dukungan dari birokrasi sangat kecil dapat diraih oleh Aher, mengingat sistim tata kelola pemerintahan yang selama ini dilakukan oleh kader PKS yang duduk di pemerintahan dinilai terlalu kaku dalam mengambil kebijakan dan cenderung melakukan pemaksaan secara halus yang dikemas dalam kegiatan pengajian di internal birokrat. Memang terlihat kegiatan ini sangat positif dalam rangka menumbuhkan mental birokrat yang agamis dan diharapkan nantinya dapat di implementasikan dalam wujud pelayanan yang lebih baik pada masyarakat tanpa melakukan atau merugikan masyarakat itu sendiri.
Namun sangat disayangkan ternyata kegiatan pengajian ini lebih cenderung bersipat keterpaksaan saja, ada udang dibalik batu, bagi birokrat yang haus kekuasaan tentunya akan berpura-pura ikut dalam pengajian, sudah bukan rahasia umum lagi kalau birokrat ingin mendapat posisi jabatan salah satu syaratnya harus aktif di pengajian ? Apakah cara ini berhasil ? lihat saja di Kota Depok, pengajian rutin selalu dilakukan tiap hari rabu di mesjid balaikota, tapi kondisi ini justru sangat kontras terhadap penilaian Komisi Pemberantasan Korupsi yang menilai bahwa pelayanan publik di Kota Depok terburuk se-indonesia.
Indikasi ini membuktikan, bahwa sebenarnya ada proses pembusukan atau perlawanan secara tidak langsung yang dilakukan oleh para birokrat yang sebenarnya tidak suka dengan model pembinaan seperti ini, perilaku birokrat ini justru terjadi di pemerintahan yang kepala daerahnya berasal dari PKS. Kecil kemungkinan bagi Aher untuk mendapat dukungan dari para birokrat, karena jaringan birokrat itu sangat kuat, tentunya mereka akan berupaya semaksimal mungkin melakukan gerakan agar tidak memilh Aher sebagai Gubernur Jawa Barat. Walaupun Birokrat harus netral, banyak cara yang bisa mereka lakukan untuk mewujudkan rencananya itu.
Kelima :
Kasus dana bansos di Jawa Barat tentunya akan menjadi batu sandungan bagi Aher, Walaupun Aher tidak terlibat dalam hal ini, setidaknya dalam kasus dana bansos ini nama PKS tercoreng oleh ulah oknum kadernya Bambang Beny Erawan akibat terlibat dalam kasus bantuan sosial (bansos) pemerintah provinsi Jawa Barat tahun 2008 senilai Rp 87 miliar. Bambang Beny Erawan adalah anggota DPRD Jawa Barat periode 2004-2009 dari PKS
Beni diduga terlibat dalam penyalahgunaan pengadaan alat kesehatan mata di Dinas Kesehatan senilai Rp.800 juta. Dalam fakta persidangan terungkap, Beni terlibat pengadaan alat kesehatan dua rumah sakit senilai Rp.800 juta. Dia diketahui menerima uang senilai Rp.125 juta dari salah satu rekan tersangka. Sehingga dengan adanya kasus ini setidaknya membuat citra PKS menjadi menurun di mata masyarakat. Tidak bisa dipungkiri kasus ini juga menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan terhadap kegagalan PKS pada pemilukada Jakarta terutama terkait dengan masalah pencitraan.
Ke-enam :
Kisruh pemilukada Depok walaupun tidak ada hubungannya dengan Aher namun kasus ini setidaknya bisa membuat nama baik PKS melorot tajam, mengingat Walikota Depok terpilih adalah mantan pendiri dan presiden pertama PKS.
Para penggiat politik di Kota Depok telah menilai Nur Mahmudi Ismail diduga melakukan praktek kotor melalui permainan kedip mata dengan berbagai unsur yang terkait dalam pelaksanaan pemilukada Kota Depok. Malah saat ini di Kota Depok sedang berkembang isu bahwa pemilukada Depok akan segera diulang, tinggal menunggu penempatan Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Depok, santer terdengar nama Winwin Winantika mantan Sekda Kota Depok akan menduduki Plt Walikota Depok, isu terakhir penempatan Plt ini masih tarik ulur, tinggal menunggu waktu yang pas untuk segera dilaksanakan, apakah sebelum atau sesudah pemilukada Jawa Barat, sehingga ada sebagian penggiat politik di Kota Depok menilai berlarut-larutnya kisruh pemilukada Kota Depok tak lepas dari campur tangan Aher yang notabene adalah koleganya satu partai dengan Nur Mahmudi Ismail, karena tarik ulur ini berkaitan dengan kepentingan secara lebih luas terutama kepentingan pemilukada Jawa Barat
Opini terus menerus kisruh pemilukada Kota Depok tentunya akan berpengaruh terhadap citra buruk PKS dimata masyarakat, karena publik tentu akan menilai bahwa pelaksanaan pemilukada Kota Depok diwarnai dengan perbuatan tidak terpuji yang dilakukan oleh Walikota Depok terpilih Nur Mahmudi Ismail dengan melakukan kerjasama bersama Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan ? lihat saja di group-group facebook Kota Depok selalu saja setiap hari ada opini yang menilai pemilukada Kota Depok cacat hukum, sasaran tembaknya, siapa lagi kalau bukan PKS, Nur Mahmudi Ismail dan Ahmad Heryawan.
Demikian sedikit analisa sederhana yang bisa disampaikan, sekarang tinggal bagaimana masyarakat jawa barat yang menentukan, siapakah yang layak memimpin jawa barat periode 2013-2018 ? Apakah masih tetap memberikan kepercayaan pada Aher atau memilih kandidat lain yang diharapkan bisa melakukan perubahan yang lebih baik bagi Jawa Barat.






+ komentar + 1 komentar
pak mana janji2 mu waktu dulu mau naik.
apakah ada yang terealisasi?
1. lapangan pekerjaan 1 juta???
yang bener saja pak yg ada TKI jabar yang paling banyak dibawa ke negara orang
2. meningkatkan kesejahteraan petani
luas wilayah memang bertambah tp jumlah padi koq berkurang, serta gak ada efek signifikan kepada petani tuh.
3. anggaran dana khusus Rp. 50 milyar/tahun untuk operasi pasar ketika harga sembako naik.
wah klo emang segitu gak mungkin rakyat jabar kelaparan trus nyari duit ampe ngemis2 di negara org, eh sampe kampung dgn keadaan yg mengenaskan.
dari situ juga seharusnya bapak malu, mana janji2 manis bapak dulu, apakah sudah ada progres yg jelas sehingga bapak layak untuk maju ke 2 kalinya.
Posting Komentar